RSS Feed
Selamat Datang
image

Ine ( Contact Person )

085722664373


RuMAH PARENTING
(GRup Miracles At Home PARENTING)

Jl Cikadut, Kp Mande No 33, Karang Pamulang, Mandalajati, Bandung, 40194

Facebook :
FB 1 : Rumah Parenting Full
FB 2 : Zulaehah Hidayati Rumah Parenting
FB 3 : Zulaehah Hidayati Rumah Parenti
Program RuMAH PARENTING

 

RuMAH PARENTING menyediakan 2 macam program:

- Seminar dengan durasi 2,5 - 3 jam

- TUT (Training untuk Terampil) selama 3 hr

Berminat mengadakan Seminar atau TUT RuMAH PARENTING??

Info dan keterangan lebih lanjut silahkan hubungi Ine 085722664373

 

Agenda RuMAH PARENTING 2015:

15 November 2015 - In House Training "Mendisiplinkan Siswa Secara Efektif - TK,SD Al Fatih, Tangerang

29 Septemver 2015 - Seminar "Peran Keluarga dan Sekolah dalam Pembentukan Karater Anak yang Berkepribadian Luhur di Era Gadget" , Gd Erlangga, Madiun

6 Juni 2015 - In House Seminar "Peran Orang Tua dalam Membangun Pribadi Anak yang Berkarakter", Honda Manufacturing Precicion Part

28 Maret 2015 - In House Seminar - serikat pekerja, Tambun

31 Januari 2015 - In House Seminar "Mendidik Anak diEra Digital" - Sekolah Al-Irsyad , Cikutra, Bandung

17-18 Januari 2015 - TUT PARENTING, baitusysyukur, bandung

 

Agenda RuMAH PARENTING 2014:

13 Dec 2014- In House Seminar, An-Nahl Islamic School, Bogor

6 Dec 2014 - Pengajian Parenting Majalah Percikan Iman, Rabbani, bandung

8 November 2014 - In house seminar, PT Omron, kawasan industri

26-30 September  2014- TUT PARENTING, baitusysyukur, bandung

14 September 2014 - Seminar, Salman ITB, bandung

31 Agustus 2014 - Seminar, Purwodadi

5 Juli 2014 - Kelas Parenting "Pencegahan Kekerasan Seksual", Salman ITB, Bandung

 

21 Juni 2014 - Seminar untuk karyawan TOSHIBA, Cikarang

14 Juni 2014 - seminar untuk karyawan POLITE, Bandung

 

24 Mei 2014 - Kelas Parenting "Parenting With Love", Salman ITB, Bandung

3 Mei 2014 - SD Islam Plus An-Nur, Cikarang

Seminar "Membentuk Anak Cerdas dan Berkarakter dengan Teknik PARENTING"

 

24 April 2014 - Mamazy,  Promo produk di Salatiga

Seminar Parenting "Mendidik Anak dengan Mudah dan Menyenangkan"

 

13 April 2014 - SDIT DJ, Majalaya

Seminar Parenting "Mendidik Anak dengan Mudah dan Menyenangkan"

 

12 April 2014 - Dinas Pendidikan, Lembang

Seminar Parenting "Mendidik Anak dengan Mudah dan Menyenangkan"

 

12 Januari 2014 - EO Bandoeng Sae, Bandung - Aula Taman Pramuka, Bandung

Talkshow Parenting "Cara Penggunaan Teknik Time Out pada Anak"

 

Agenda RuMAH PARENTING 2013:

 

1 Desember 2013 - Aula Seno Medika Klinik Khitan

Talkshow Parenting "Pencegahan dan Penanganan Sex di Kalangan Remaja"

 

9 November 2013 - Nova Ladies Fair

RuMAH PARENTING dan MAMAZY Partisipasi dalam Bazaar

 

21 September 2013 - Sekolah Tunas Unggul, Pasir Impun, Bandung

Seminar Magic Parenting "Membentuk Anak Cerdas Spiritual dan Finansial"

 

15 September 2013 - IMAS (Indonesian Muslim Association in Singapore) @ Masjid Istiqamah, Kedutaan Besar Indonesia di Singapura

Seminar Parenting "Mendidik Anak Disiplin dengan Cinta"

 

11 Juli 2013 - DKM RSUD Ujung Berung

Seminar Parenting "Cara Mendidik Anak dengan Mudah dan Menyenangkan"

 

25 Mei 2013 - PT Panasonic Health Care Indonesia, Cikarang

Seminar Parenting "Cara Mendidik Anak Agar Cerdas dan Berkarakter dengan Teknik PARENTING yang praktis dan mencerahkan"

 

30 April 2013 - Dinas Pendidikan Kuningan

Seminar Parenting "Cara Mudah Mendidik Anak, Aku Bahagia Menjadi Orang tua"

 

14 April 2013 - EO Bandoeng Sae, Bandung

Seminar Parenting "Tips n Trik membangun Kekompakkan Pasangan dalam Parenting"

 

16 Maret 2013 - Sekolah Mentari Ar-Ridho, Jakarta Timur

Seminar Parenting "Membentuk Anak Cerdas Berkarakter"

 

9 Maret 2013 - Rumah Kreasi NOVA, Bandung

Seminar Parenting "Mengatasi Marah dan Perilaku Buruk pada Anak"

 

3 Maret 2013 - GSG Citra Komplek Bumi Panyileukan, Bandung

Seminar Parenting "Cara Mendidik Anak dengan Mudah dan Menyenangkan"

 

4 Februari 2013 - Gd. Erlangga, Bandung

Seminar dan Workshop Parenting "Time Out untuk Mengatasi Marah dan Perilaku Buruk pada Anak"

 

19 Januari 2013 - Sekolah Gagas Ceria, Bandung

"Komunikasi Efektif"


Agenda yang selengkapnya

Jam

Counter

 


visitors by country counter

 

world map hits counter



SLINK

Mengatasi Anak Pemalu

image

Sikap Pemalu Justru di dapat dari belajar

Mungkin selama ini kita tak pernah tahu, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu. Mau tahu siapa "biang kerok"nya? Ternyata, orang tua! Punya anak pemalu kerap bikin jengkel. Ke mana-mana dan di mana saja, si kecil menempel atau sembunyi di balik orang tua/pengasuhnya. Apalagi kalau diajak ke sebuah lingkungan baru yang dirasanya asing. Yang pasti, seperti dituturkan Dra. Frida NRH, MS, staf pengajar jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, ada beberapa kategori anak pemalu. Ada yang tak berani tampil di tempat umum, tak mau bertemu orang, ada pula yang mau bertemu orang tapi tanpa melakukan sesuatu, terlebih yang bersifaf kompetitif. Bahkan ada yang saking pemalunya, enggan bertemu orang. Jika terpaksa, badannya gemetar, keluar keringat, bahkan jadi kebelet pipis.

Pada kasus yang ekstrim itu, "Si pemalu disebut menderita fobia sosial. Ia perlu bantuan ahli untuk penyembuhannya," kata Frida. Namun jangan cemas jika si kecil yang cenderung pemalu akan menderita fobia sosial tersebut. "Itu sangat jarang terjadi, kok. Terlebih jika orang tua sejak awal sudah peka bahwa anaknya ada kecenderungan menjadi pemalu dan bisa segera mengatasinya."


Dari "Belajar"

Frida yakin, tak ada anak yang dilahirkan sebagai pemalu. "Dia jadi pemalu lebih disebabkan lingkungan tempat ia belajar." Anak, lanjutnya, mengalami proses (sejak lahir) bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya yang lalu memberinya suatu pelajaran bahwa, "Saya harus malu." Jadi, "Ada pengalaman yang membuat si anak mengambil kesimpulan bahwa ia harus muncul sebagai pemalu terhadap lingkungannya." Sayangnya, orang tua sering tak sadar, mereka telah menciptakan suatu lingkungan yang membuat anaknya jadi pemalu. Anak "belajar" dari perlakuan yang diterima, amati, dan rasakan dari ayah-ibunya. Contohnya, anak yang sering diperlakukan negatif. "Mau ini-itu, dicela dan dilarang. Dari sinilah bibit pemalu bisa muncul." Demikian juga anak yang terlalu dilindungi, yang akhirnya membuatnya sulit melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Frida mengibaratkan anak dalam kepompong, yang selalu dilindungi dan dibantu. "Akibatnya, anak tak pernah bisa mandiri," tutur pengurus Lembaga Perlindungan Anak Jawa Tengah ini.

Contoh lain adalah anak yang biasa menerima kasih sayang untuk sikap-sikap yang kondisional. "Si anak disayang orang tua kalau menurut, bersikap baik. Pokoknya, semacam ada syaratnya." Alhasil, hal ini akan terbawa saat ia harus berhubungan dengan lingkungan luar. Ia merasa, kalau mau diterima dengan baik, ada persyaratannya yang mesti dilakukannya. Padahal, lanjut Frida, anak punya persepsi tentang dirinya sendiri. Kalau sering diberi syarat, ia jadi berpikir, "Oh, Mama dan Papa mensyaratkan begitu. Jadi, kalau syaratnya belum bisa saya penuhi, saya belum sempurna betul untuk tampil."

Dampak selanjutnya, anak akan takut berkompetisi karena ia selalu merasa orang lain akan lebih dari dirinya. "Nah, itu, kan, membuatnya makin merasa malu untuk tampil. Sebab, ia merasa tak aman." Perasaan kurang PD (percaya diri) itulah yang membuatnya merasa, orang lain tak welcome menerima dirinya atau ia merasa, dirinya memang tak mampu. Bisa juga ia jadi merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri karena selalu diliputi perasaan, "Jika saya tampil, pasti saya akan dilecehkan."

"Terus Latih"

Lantaran itulah Frida percaya, anak yang memiliki kecenderungan pemalu dapat berubah. Apalagi dalam hidupnya, anak terus berproses mengembangkan dirinya. Yang penting, orang tua rajin memberikan stimulasi dan latihan padanya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. "Niscaya rasa malu itu akan berkurang, bahkan dapat dihilangkan," tegas Frida. Caranya? Beri anak pengalaman yang membuatnya tersadar, konsep dirinya itu keliru. "Hingga ia pun akan berkesimpulan, ternyata dengan kemampuan yang ada pun, orang lain menerima dirinya sepenuhnya." Juga bahwa dunia yang dicintainya tak membutuhkan banyak syarat. "Ini akan memberikan perubahan pada dirinya," ujar pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Anak, Remaja dan Pemuda wilayah Jawa Tengah ini. Dengan kata lain, orang tua membantu anak mengkaji ulang pandangan tentang dirinya sendiri. Lama-kelamaan si anak akan berpikir, menjadi pemalu adalah hal keliru. "Itu perlunya pelatihan-pelatihan. Menurut saya, pemalu lebih karena sikap, bukan personality atau kepribadian."

Karena itulah, orang tua harus melatih anak agar tak jadi pemalu. Ini sekaligus penting untuk menanamkan pada anak bahwa untuk hidup di masyarakat, diperlukan "keberanian". Soalnya, sambung Frida, "Lingkungan selalu membutuhkan penyesuaian dari kita. Orang-orang yang tak mampu bergaul dan bersosialisasi dianggap maladjusted ." Lebih dari itu, lingkungan juga akan mencapnya memiliki perkembangan kepribadian yang kurang baik atau bahkan dicap berkepribadian negatif. Akibatnya, "Ia tak lagi bisa optimal mengembangkan dirinya secara baik dengan cap yang sudah terlanjur melekat tadi."

 

Sumber : Tabloid Nakita

 

Ayah Bunda, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu mengatasi rasa malu pada anak-anak. Pertama, sebaiknya orang tua tidak mengolok-olok atau membicarakan sifat pemalu anak didepannya, karena anak merasa tidak diterima sebagaimana adanya.


Kedua, ketahui kesukaan dan potensi anak. Lalu, doronglah anak untuk berani melakukan hal tertentu, melalui hobi dan potensi diri. Misalnya, anak usia suka main mobil-mobilan, ketika ditoko ia ingin mobil merah, sementara yang tersedia warna biru. Maka, anak bisa didorong untuk mengatakan pada pelayan bahwa ia menginginkan warna merah.


Ketiga, sebaiknya orang tua secara rutin mengajak anak berkunjung kerumah teman, tetangga, kerabat, dan bermain disana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjug, sebiknya juga mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.


Keempat, lakukan role-playing bersama anak. Misalnya, seperti contoh kedua, anak belum tentu berani berbicara pada pelayan toko, sekalipun didampingi orang tuanya. Maka, ketika berada dirumah, orang tua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada ditoko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lainnya.


Kelima, jadilah contoh buat anak. Orang tua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.


Apapun usaha yang dilakukan, sebiaknya orang tua tetap mendampingi dan tidak langsung melepas anak seorang diri. Misalnya, ketika diminta berbicara pada pelayan toko, orang tua berada disamping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orang tua tetap berada di rumah temannya itu. Anak bisa dibiarkan melakukan aktivitas seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang.

 

dr. Zulaehah Hidayati

Share

Copyright © 2017 RuMAH PARENTING · All Rights Reserved